Baitul Makmur adalah tempat malaikat melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ta ala

Ilustrasi ka'bah. Foto: Pixabay.

Sebagaimana umat Islam menunaikan haji dengan mengunjungi ka’bah, para malaikat juga memiliki ka’bah yang berada di langit ketujuh. Allah menamakan ka'bah tersebut dengan Baitul Makmur dalam Alquran surat Ath-Thur ayat 4 yang berbunyi:

Artinya: Dan demi Baitul Makmur.

Dikutip dari buku Mengintip Alam Gaib oleh Aep Saepulloh Darusmanwiati, Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan hadist sahih Bukhari dan Muslim tentang perjalanan Isra Miraj yang dilakukan Rasulullah. Dalam riwayat tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Aku dibawa ke Baitul Makmur, tempat setiap harinya tujuh puluh ribu malaikat datang untuk beribadah dan bertawaf,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masih dari sumber yang sama, letak Baitul Makmur berada lurus di atas Ka’bah Masjidil Haram. Apabila dijatuhkan batu dari Baitul Makmur, batu itu akan terjatuh tepat di atasnya. Hal ini diketahui dari riwayat Ibnu Jarir dari Ali bin Abi Thalib.

Suatu ketika seorang laki-laki bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang Baitul Makmur. Kemudian Ali menjawab, “Itu adalah tempat ibadah yang berada di langit persis di atas ka’bah. Tempat ini sangat mulia dan terhormat sebagaimana ka’bah yang ada di bumi. Setiap hari selalu dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat. Mereka yang sudah masuk ke dalamnya tidak pernah kembali lagi.”

Dikutip dari buku Rahasia Alam Malaikat, Jin dan Setan oleh Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, cara malaikat beribadah di Baitul Makmur adalah melaksanakan thawaf sebagaimana penduduk bumi melakukan thawaf mengelilingi ka’bah.

Di samping itu, saat perjalanan Isra Miraj Allah mempertemukan Rasulullah SAW dengan Nabi Ibrahim di dalam Baitul Makmur. Keberadaan Nabi Ibrahim di dalam Baitul Makmur sebab beliau adalah nabi yang membangun ka’bah di bumi.

Dikutip dari buku Di Bawah Cengkeraman Asing oleh Hanafi Al Mahlawi, dkk., selain Nabi Ibrahim, Rasulullah SAW juga bertemu dengan Nabi Adam yang sedang menyandarkan punggungnya ke kursi yang terbuat dari cahaya di Baitul Makmur.

Lalu bagaimana awal mula Baitul Makmur?

Ilustrasi ka'bah. Foto: Unsplas,com

Dikutip dari buku Bustan al-Wa'izhin Suluh Penyucian Jiwa oleh Ibnul Jauzi, Allah menciptakan Baitul Makmur saat hendak menciptakan Nabi Adam as di bumi. Keputusan tersebut dipertanyakan oleh para malaikat. Hal ini dijelaskan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 30.

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Jawaban dari Allah membuat para malaikat merasa berdosa dan mereka menebus dosanya dengan bertawaf di Baitul Makmur hingga hari akhir.

Masih dari sumber yang sama, awalnya Baitul Makmur dibangun Allah di bumi hingga badai topan Nabi Nuh melanda. Baitul Makmur kemudian dijaga dan diselamatkan oleh Allah dengan mengangkatnya ke langit ketujuh.

Dikutip dari buku Di Bawah Cengkeraman Asing, Allah membangun Baitul Makmur dari intan berkilauan. Selain itu, sebagian Baitul Makmur terbuat dari batu yaqut kuning, zabrajad hijau dan mutiara yang sangat lembut.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Baitul Makmur merupakan tempat beribadah puluhan ribu malaikat. Dikutip dari buku Oase Spirtual 1 oleh Erlangga, pada Baitul Makmur terdapat menara dengan tinggi 500 tahun perjalanan.

Manakala hari Jumat, Malakat Jibril naik ke atas menara tersebut untuk mengumandangkan suara adzan. Kemudian malaikat Israfil bertugas berkhutbah sedangkan Malaikat Mikail menjadi imam dari ribuan malaikat-malaikat tersebut.

Oleh : Ust Lilik Ibadurrahman

Contoh-Contoh Dari Ibadah Mereka [Para Malaikat]:

Malaikat adalah Hamba-hamba Allah, dibebani dengan ketaatan kapada-Nya, dan Mereka medirikan ibadah, dan dibebani sebuah keringanan dan kemudahan, dan kami akan menerangkan sebagian ibadah yang telah di terangkan oleh Allah, Atau Rasulnya yang menerangkan sesungguhnya mereka mendirikan ibadah tersebut.

DiantaraContoh Ibadahnya Para Malaikat – Sebagaimana yang di sebutkan oleh Dr. Sulaiman bin Umar Al-Asyqardalamkitabnya“AlamulMalaikatulAbrar” :

Malaikat senantiasa berdzikir kepada Allah, dan yang lebih agung dzikirnya adalah Tasbih, seperti bertasbihnya malaikat Hamalatul Arasy kepada Allah,

Allah Ta’alaberfirman:

(الَّذين يحملون العرش ومن حوله يسبحون بحمد ربهم) [سورة غافر: 7]

“Malaikat-malaikat yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekeliling-Arsy bertasbih memuji Tuhannya”[QS. Al-Ghofir: 7].

Begitu pula bertasbihnya keumuman para malaikat:

Sebagaimana Firman Allah:

(والملائكة يسبحون بحمد ربهم) [سورة الشورى: 5]

“Dan Para Malaikat Bertasbih memuji Tuhan Mereka”[QS Asy-Syuro: 5]

Allah Juga menganjurkan kita (Umat Islam) supaya memperbanyak ucapan Dzikir / Tasbih

قال الله تعالى : “وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ (39) وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ (40)” –(سورة ق: 39-40)

Artinya:

Allan Ta’ala berfirman:“….Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di sebagian malam dan setiap selesai sholat fardhu”.(QS. Qoff: 39-40)

Telah disebutkan hadits tentang Motivasi Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terhadap para sahabatnya untuk meneladani para Malaikat dalam Berhof-shof diwaktu sholat,

Nabi ShallallahuAlaihiWasallambersabda:

(ألا تصفون كما تصف الملائكة عند ربها؟) . وعندما سئل عن كيفية اصطفافهم قال: (يتمون الصفوف، ويتراصون في الصف) . رواه مسلم

“Tidaklah kalian bershof-shof, sebagaimana shof-shofnya para malaikat disisi Tuhannya?, ketika Nabi ditanya tentang tatacara bershof-shofnya para Malaikat, Maka Nabi bersabda: “Mereka menyempurnakan shof-shof mereka, dan menempelkan diri dalam barisan.”[HR Muslim dalam Shahihnya],

Dan didalam Al-Qur’an, Allah menerangkan tentang Malaikat:

(وإنَّا لنحن الصَّافون) [الصافات: 165]

“Dan Sesungguhnya Kami [Para Malaikat] benar-benar bershof-shof”.[QS. Ash-Shoffat: 165]

Dalam hadits shohih Riwayat Imam At-Thohawi dalam Musykilul Atsar dan Riwayat Thobroni dalam Mu’jam Al-Kabir dalam Hakim Ibnu Hizam berkata:

“بينما رسول الله صلى الله عليه وسلم في أصحابه إذ قال لهم: (أتسمعون ما أسمع؟) . قالوا: ما نسمع من شيء، قال: (إني لأسمع أطيط السماء، وما تلام أن تئط، ما فيها موضع شبر إلا عليه ملك ساجد أو قائم)

Rasulullah berkata kepada kami [para sahabat]: “Apakah engkau mendengar seperti yang saya dengar?,Mereka menjawab:“Kami tidak mendengar sesuatu apapun.”

Lalu Nabi bersabda: “Saya mendengar rintihan langit [karena keberatan], dan langit berhak merintih, tidaklah terdapat jarak satu jengkalpun dilangit melainkan diatasnya terdapat malaikat yang sujud atau berdiri. [hal ini karena banyaknya para malaikat]”[Silsilah Al-Ahadits As-Shohihah: 1/236]

Motivasi Nabi Dalam Meluruskan Shof:

«أقيموا صفوفكم، فإني أراكم من وراء ظهري، وكان أحدنا يلزق منكبه بمنكب صاحبه، وقدمه بقدمه»

(أخرجه البخاري في صحيحه (1/146))

Artinya:

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku dapat melihat kalian dari balik punggungku.” Anas berkata: Dan setiap orang dari kami merapatkan bahunya kepada bahu temannya, dan kakinya pada kaki temannya.” (Shahih, HR Bukhori dalam Shahihnya (1/146))

Motivasi Umar bin Khottob Sa’at Meluruskan Shof:

وقال أبو نضرة: كان عمر إذا أقيمت الصلاة استقبل الناس بوجهه، ثم قال: أقيموا صفوفكم، استووا قياما، يريد الله بكم هدي الملائكة، ثم يقول: {وإنا لنحن الصافون} ، تأخر يا فلان، تقدم يا فلان، ثم يتقدم فيكبر، رضي الله عنه. رواه ابن أبي، حاتم وابن جرير. (انظر: التفسير لابن كثير (7/44))

Artinya:

Abu Nadzroh berkata:Dahulu Umar (bin Khottob) ketika iqomat dikumandangkan, maka beliau menghadap ke makmumnya, kemudian beliau berkata: tegakkan shof kalian, luruskan shof kalian, Allah menginginkan agar kalian mengikuti petunjauk para malaikat, kemudian beliau berkata lagi: (Allah berfirman tentang ucapan malaikat) Kami benar-benar bershof-shof), [umar berkata lagi]: mundur [sedikit] wahai fulan, maju [sedikit] wahai fulan, Lalu beliau maju kedepan, dan bertakbir.(Lihat: Tafsir Ibnu Katsir (7/44))

Untuk Para Malaikat di sediakannya Ka’bah yang terdapat di langit ketujuh, mereka melakukan ibadah haji, ka’bah tersebut yang mana Allah menamainya: “Baitul Ma’mur”. Dan Allah bersumpah Adanya Baitul Ma’mur tersebut, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat At-Thur, Ayat 4:

(والبيت المعمور) [سورة الطور: 4] .

“Demi Baitul Ma’mur” (QS. At-Thur, Ayat 4)

Imam Ibnu Katsir dalam dalam Tafsirnya menafsirkan Ayat ini, dengan sebuah hadits shohih Riwayat “Ash-Shohihain” [Bukhori dan Muslim]: Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda didalam hadits isro’ , setelah Nabi muhammad melewati langit ketujuh. Nabi bersabda:

(ثمّ رفع بي إلى البيت المعمور، وإذا هو يدخله كل يوم سبعون ألفاً، إذا خرجوا منهلا يعودون إليه آخر ما عليهم)

“kemudian diangkatlah aku sampai ke Baitul Ma’mur, [dalam riwayat lain: di langit ketujuh], ternyata disana di masuki oleh malaikat setiap harinyasebanyak 70.000 malaikat, dan jika mereka telah keluar, maka mereka tidak akan kembali lagi [ke baitul Makmur].”

Ibnu Katsir melanjutkan, Maksudnya;“beribadah didalamnya, melakukan thowaf –sebagaimana penduduk bumi (manusia) mengerjakan thowaf di ka’bah mereka. Dan Baitul Ma’mur adalah Ka’bah yang terletak dilangit ketujuh, dan inilah yang pernah di perlihatkan Nabi ibrohim Al-KholilAlaihis Sholatu Was-Salam yang bersandar punggungnya ke Bitul Ma’mur [Sa’at Nabi Muhammad Melakukan Isro’ Mi’roj] karena sesungguhnya dia [Nabi Ibrohim] yang membangun Al-Ka’bah Al-Ardhiyah [ka’bah yang ada dibumi], dan balasan itu sesuai dengan Amal perbuatannya”.

Dan disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir juga dalamtafsirayatdiatas:“Sesungguhnya Baitul Ma’mur diatas ka’bah Al-Ardhiyah –secara tegak lurus- maksudnya diatasnya, jika baitul Ma’mur jatuh tentu akan menjatuhi ka’bah dibumi, dan disebutkan bahwasanya setiap langit terdapat Bait [Tempat Ibadah] yang bisa dijadikan tempat ibadah bagi penghuninya [penghuni langit / para malaikat], mereka mengerjakan sholat kepada Bait tersebut, dan ‘Tempat ibadah’ dilangit dunia [langit pertama] di namai juga BAITUL IZZAH.

Dan ini yang disebutkan oleh imam Ibnu Katsir bahwasanya Ba’tul Ma’mur [di langit] –arahnya- tegak lurus diatas Ka’bah di Bumi, sebagaimana terdapat Riwayat dari Ali bin Abi Tholib yang di sebutkan oleh Imam Ibnu Jarir, dari jalan Thoriq bin Ar-Aroh,

أن رجلاً قال لعلي – رضي الله عنه -: ما البيت المعمور؟ قال: ” بيت في السماء بحيال البيت، حرمة هذا في السماء كحرمة هذا في الأرض، يدخله كل يوم سبعون ألف ملك، ولا يعودون إليه “

Artinya:

“Sesungguhnya ada seseorang yang berkata kepada Ali bin Abi Tholib: “Apa itu Bitul Makmur”,

Ali bin Abu Tholib menjawab: “itu adalah Bait [ka’bah] dilangit, yang arahnya tegak lurus dengan ka’bah di bumi, Kemuliaan Tempat ini dilangit sebagaimana Mulianya ka’bah di bumi, malaikat akan masuk ke dalamnya [yaitu Baitul Makmur] setiap harinya sebanyak 70.000 malaikat,dan jika mereka telah keluarmaka mereka tidak akan kembali lagi”.

Berkatalah Syeikh Nashiruddin Al-Albani [dalam “Ash-Shohihah” (1/236)] mengenai Atsar diatas: Rijalnya Tsiqoh (kuat) selain Kholid bin Ar’Aroh, dan adalah seorang Masthur (tertutup), kemudian disana terdapat syahid (penguat) secara Mursal Shohih dari Qotadah bin Di’amah, ia berkata:

أن النبي صلى الله عليه وسلم قال يوماً لأصحابه: (هل تدرون ما البيت المعمور؟ قالوا: الله ورسوله أعلم، قال: فإنه مسجد في السماء، تحته الكعبة، لو خرّ لخر عليها … ) .

ثم قال المحقق (الألباني) : ” وجملة القول أن هذه الزيادة (حيالالكعبة) ثابتة بمجموع طرقها “.

“Sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pada suatu hari berkata kepada Sahabatnya: “Apakah engkau tahu tentang Baitul Ma’mur? Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Lalu Nabi bersabda: “Sesungguhnya itu adalah masjid [ka’bah] dilangit, dan dibawahnya adalah ka’bah [di bumi], jika baitul ma’mur jatuh, maka akan menjatuhi ka’bah yang ada di bumi.”

Kemudian Muhaqqiq [Syeikh Al-Albani] berkata: Secara penggabungan Qoul (hadits) sesungguhnya tambahan ini [Khoyalul Ka’bah] menjadi tsabit (kuat / shohih) dengan menggabungkan jalur-jalur periwayatnya.

  1. Menampakkan Rasa KHOUF dan KHOSY-YAH [Takut] kepada Allah

Dan tatkala seseorang mengetahui begitu besar malaikat disisi Robbnya, yang mana mereka senantiasa mengagungkan kepada Allah, merasa sangat takut kepada Allah, sebagaimana dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang mereka:

(وهم من خشيته مشفقون) [سورة الأنبياء: 28] .

“dan mereka (para Malaikat) berhati-hati kaena takut kepada Robb mereka”. [QS. Al-Anbiya’: 28]

Dan dijelaskan pula tentang rasa takut yang sangat tinggi kepada Robb mereka, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Huroiroh, Dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

(إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعاناً لقوله كالسلسلة على صفوان) .

قال علي، وقال غيره: ” صفوان ينفذهم ذلك. فإذا فزع عن قلوبهم قالوا: ماذا قال ربكم؟ قالوا للذي قال: الحق، وهو العلي الكبير ”

“Apabila Allah menetapkan suatu perkara di langitmaka para malaikat mengepakkan sayap-sayap mereka karena tunduk kepada firman-Nya, seakan-akan rantai yang berada di atas batu besar –karena rasa takutnya mereka pada Robbnya-. 

Ali dan yang lainya berkata; hal itu sebagaimana firman Allah: “Tatkala mereka telah merasa stabil (tenang), mereka berkata; ‘Apa yang difirmankan Rabb kita? ‘ mereka menjawab; ‘Al Haq, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.’

Dan dalam Mu’jam Ath-Thobroni dalam Al-Ausath dengan sanad Hasan, Dari Jabir Radhiyallahu Anhu : Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“(مررت ليلة أُسري بي بالملأ الأعلى، وجبريل كالحلس البالي من خشية الله تعالى) “

ومعنى الحلس، أي : كساء يبسط في أرض البيت “.

“Saya pernah melewati Para Malaikatul Al-A’la dan Malaikat Jibril ketika malam Isra Mi’raj, mereka laksana seperti pakaian usang karena sangat takut kepada Robbnya”.

  1. Bersholawat Kepada Nabi Muhammad

Allah Ta’ala berfirman:

قال الله تعالى: “إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا –سورة الأحزاب: (56)-

Artinya:

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.(QS. Al-Ahzab: 56)

Tafsir Ayat diatas: Tentang Sholawat Dari Malaikat Maksudnya:

ونقل البخاري عن قول أبي العالية: صلاة الله: ثناؤه عليه عند الملائكة، وصلاة الملائكة: الدعاء. وقال ابن عباس: يصلون: يبركون. هكذا علقه البخاري عنهما ) صحيح البخاري (8/532) “فتح”(.

Terjemahannya:

Imam Bukhori menukil dari perkataan Abul Aliyah, bahwa ia berkata:“Sholawat Allah kepada Nabi adalah puji-pujian untuk Nabi dihadapan para Malaikat, dan Sholawatnya para malaikat adalah Do’a. Ibnu Abbas berkata: Para Malaikat bersholawat artinya mereka mendo’akan keberkahan [pada Nabi]. Inilah dalam riwayat Mu’allaq yang ditulis oleh Imam Bukhori (Shohih Bukhori (8/532))

  1. Mendo’akan Orang-Orang Yang Mukmin di Bumi

Allah Ta’ala berfirman:

“هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا” (43)

Artinya:

“Dia-lah Allah yang memberi rahmat kepadamu, dan Malaikat-Nya (memohonkan ampun untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan menuju cahaya (yang terang). Dan Dia-lah Allah yang Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab: 43) 

TAFSIR AYAT DIATAS:

وقال ابن جرير الطبري في قوله تعالى: (لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ) يعني: تدعو ملائكة الله لكم؛ فيخرجكم الله من الضلالة إلى الهدى، ومن الكفر إلى الإيمان.

Terjemahnya:

Imam Ibnu jarir Ath-Thobari Rahimahullah dalam tafsirnya berkata: maksud dari “(kegelapan menuju cahaya)” adalah Do’a para malaikat untuk kalian, agar Allah mengeluarkan kalian dari kesesatan menuju hidayah, dari kekufuran menuju keimanan”. (Lihat: Tafsir Ibnu Jarir At-Thobari (20/280))

MARAAJI’:

  • Alamul Mala’ikatul Abrar karya Dr. Umar Sulaiman al-Ashqor
  • Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an Karya Ibnu Jarir Ath-Thobari
  • Tafsir Al-Qur’anul Adzim Karya Imam Ibnu Katsir
  • Musykilul Atsar Karya Imam Ath-Thohawi
  • Mu’jamul Ausath Karya Imam At-Thobroni